Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Sukses dipilih sebagai motto dan semboyan membangun Wonogiri. Sukses hadir tak sekedar sebagai semboyan  atau slogan belaka. Tapi memiliki makna dimensional  sekedar sebagai semboyan, tapi disisi lain mengandung arti sebagai acuan pencapaian target keberhasilan serta bermakna pula sebagai fungsi dasar manajemen kepemimpinan. SUKSES mengukuhkan kesejatian identitas Wonogiri.

 

 


English Version

Javanese Version


Home

Main Page
















 
 

KARAKTERISTIK ORANG WONOGIRI

Seperti diketahui dalam data sejarah, Mangkunegara I  dalam mengendalikan kerajaanya membagi sifat penduduk daerah Wonogiri menjadi 5 daerah karakter. Meliputi antara lain sebagai berikut :

 

·         Daerah NGLAROH [ wilayah Wonogiri bagian utara, diantaranya mencakup wilayah kecamatan Selogiri ], memiliki karakteristik BANDOL NGROMPOL.  Artinya sifat masyarakat di Nglaroh ini pada umumnya kuat rokhani dan jasmani, memiliki sifat bergerombol. Sifat mereka ini sangat positif dalam kaitan menggalang kesatuan dan persatuan. Mereka  juga bersifat pemberani , suka berkelahi, membuat keributan yang  jika  mampu memanfaatkan potensi masyarakat Nglaroh ini, akan menjadi semacam kekuatan dasar yang kuat demi perjuangan.

·         Daerah SEMBUYAN. Meliputi daerah Wonogiri bagian selatan [ sebagian daerah ini telah tenggelam ke dalam genangan waduk gajah mungkur ]. Masyarakat Sembuyan ini memiliki karakter  sebagai KUTUK KALUNG KENDHO.  Masyarakat di Sembuyan ini, lebih bersifat penurut, mudah diperintah pimpinan atau bersifat masyarakat PATERNALISTIK. Karena itu, ketika pemerintah Orde Baru membangun waduk gajah mungkur seluas 8.800 ha yang menenggelamkan 51 desa di 7 wilayah kecamatan serta harus memindahkan 60 ribu jiwa penduduknya, hampir tak menemui kendala yang cukup berarti.

·         Daerah WIROKO. Wilayah ini meliputi kali wiroko dan sekitanya atau berada di bagian tenggara wilayah Kabupaten Wonogiri atau tepatnya di wilayah kecamatan Tirttomoyo dan sekitarnya. Masyarakat Wiroko ini  memiliki karakteristik sebagai KETHEK SERANGGON. Seperti layaknya kera, suka hidpu bergerombol. Tapi  memiliki sfat sulit diatur, mudah tersinggung dan agak longgar dalam tata krama sopan santun. Jika didekati mereka adakalany bersifat kurang mau menghargai, tetapi jika dijauhi mereka sakit hati. Orang jawa mengatakan mereka itu lebih bersifat masyarakat yang gampang-gampang angel [gampang-gampang sulit].

·         Daerah KEDUWANG. Meliputi daerah Wonogiri bagian timur. Karakter masyarakatnya dikenal sebagai LEMAH BANG GINEBLEGAN. Yakni bagai tanah liat yang bisa menjadi padat jika ditepuk-tepuk. Masyarakat ini suka berfoya-fffoya, boros dan agak sulit untuk diperintah. Tapi  bagi pemimpin yang mampu memahmi sifat dan karakteristik mereka, ibarat mampu menepuk-nepuk layaknya sifat tanah liat, sebenarnya mereka akan menjadi mudah diarahkan demi tujuan positif.

·         Daerah HONGGOBAYAN. Mencakup wilayah Wonogiri bagian timur laut, yang sebagian diantaranya kini telah masuk wilayah kabupaten Karanganyar, masyarakat Honggobayan memiliki sifat layaknya ASU GALAK ORA NYATHEK. Ibarat anjing galak [ suka menggonggong ] tapi tidak menggigit. Sepintas dilihat dari tutur kata dan bahasanya, masyarakat Honggobayan memang kasar dan keras bahkan menampakkan sifat sombong dan congkak serta tinggi hati, sehingga ada kesan , mereka sepintas memang menakutkan. Namun demikian sebenarnya mereka baik hati. Perintah apapun dari pemimpinannya akan dikerjakan dengan baik.

Ditingkatkan dengan teknologi Google

   

5 Karakter itu memang pernah menjadi latar bekalakang sejarah masa lampau, yang diidentifikasikan langsung dari medan perjuangan RM Said [ Pangeran Sambernyawa ]. Ia melihat potensi masyarakat dengan segala sifat dan karakter budayanya itu, untuk ikut diperhitungkan dalam menyusun strategi kepejuangan dan kepemimpinannya. Guna dijadikan dasar rumusan dan acuan demi mencapai sasaran Sukses keberhasilan.

Konsepsi yang diciptakan melalui rumusan SUKSES, bukanlah konsepsi kepejuangan demi memenangkan perang sebagaiman pernah dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa di awal abab 18. Tetapi hakekatnya adalah rumusan manajemen demi meraih keberhasilan dalam membangun Wonogiri.